GudangPelajaran

Kumpulan Materi Pelajaran

4 Macam Perbedaan Anekdot dan Cerita Lucu atau Humor

March 15, 2017

Halo teman-teman, dalam artikel kali ini aku akan membahas 4 cara mudah untuk melihat perbedaan antara anekdot dengan cerita lucu.

Kedua jenis cerita ini sekilas memang tampak mirip apalagi teks anekdot yang sering kita temui senantiasa menghadirkan suasana lucu (sebagaimana cerita lucu/humor) sekaligus satir.

Baiklah, simak selengkapnya 4 perbedaan anekdot dan cerita lucu dalam artikel ini.

Perbedaan Anekdot dan Cerita Lucu atau Humor

Batas antara cerita lucu atau humor dengan anekdot kadangkala tidak tampak jelas sehingga seringkali kita kesulitan membedakan mana yang teks anekdot dan mana yang teks humor.

Hal ini diperkeruh dengan keberadaan teks yang lebih tepat disebut sebagai cerita humor, namun oleh penulisnya diberi label anekdot begitu pula sebaliknya.

Ada 4 point penting tentang perbedaan antara anekdot dan cerita lucu atau humor. Ke-empat point tersebut adalah:

  1. Perbedaan anekdot dan cerita lucu dilihat dari pengertian dan contohnya
  2. Perbedaan anekdot dan cerita lucu dilihat dari ide pembuatan ceritanya
  3. Perbedaan anekdot dan cerita lucu dilihat dari tujuan pembuatannya
  4. Perbedaan anekdot dan cerita lucu dilihat dari fungsinya

Dari ke-empat point tersebut, mari kita bahas satu persatu.

#1. Perbedaan Anekdot dan Cerita Lucu Dilihat Dari Pengertian dan Contohnya

Anekdot memang tidak bisa disamakan atau disetarakan dengan cerita lucu karena dua hal ini memang jauh berbeda. Hanya saja, kita sering kesulitan untuk membedakannya lantaran kedua jenis teks ini hadir dengan nuansa yang mirip.

Baiklah, untuk yang bagian pertama ini, kita akan melihat perbedaan dari anekdot dan cerita lucu melalui pengertian/definisi dari keduanya.

Pengertian dan Contoh Anekdot

Anekdot, secara universal (berdasarkan berbagai jenis kamus atau teori tentang anekdot) bisa diartikan sebagai suatu cerita pendek/singkat yang dibuat semenarik mungkin dan seringkali lucu berdasarkan peristiwa nyata tentang seseorang atau suatu fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

Dari pengertian tersebut, tentunya fenomen sosial yang diangkat dalam teks anekdot merupakan fenomena sosial yang menarik perhatian publik.

Fenomena sosial ini bisa mencangkup semua bidang seperti misalnya bidang politik, hukum, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, agama, ekonomi, layanan masyarakat, dan tentu saja fenomena sosial ini selalu berkaitan dengan tokoh-tokoh penting atau instansi tertentu yang terlibat di dalamnya seperti misalnnya presiden, gubernur, kyai, selebritis, kepolisian, guru, manager, dan lain-lainnya.

Biasanya, sebelum fenomena tersebut menjadi anekdot, fenomena tersebut telah ramai menjadi sorotan media masa dan ramai pula beredar beritanya di media sosial.

Apa sih misalnya? Masih ingat tentang kyai yang belum lama ini dilaporkan dan ditangkap polisi karena melakukan penipuan dengan modus menggandakan uang? Berita tersebut ramai dan banyak orang yang mengetahuinya sehingga fenomena tersebut layak untuk dijadikan anekdot.

Nah, yang khas dan yang sering terjadi dalam teks anekdot itu adalah nuansa yang mewarnai teks anekdot seringkali bersifat lucu dan menggelitik. Tak hanya itu, anekdot sangat khas dengan nuansa kritik dan sindiran pedas.

Kenap demikian? Karena fenomena yang dijadikan anekdot biasanya merupakan fenomena yang “menggemaskan” sekaligus “meresahkan” masyarakat sehingga patut untuk dicemooh dan dijadikan lelucon.

Kita bisa menggunakan fenomena “kyai palsu” yang menggandakan uang tersebut; “kyai palsu” tersebut telah merugikan banyak pihak dan telah meresahkan masyarakat sehingga patut “dihukum” dengan dibuatkan anekdot yang super lucu.

Dengan demikian, masyarakat akan mengenang (sekaligus selalu secara tidak langsung ikut menyindir) oknum tersebut dengan membaca teks anekdot yang berisi sindiran lucu.

Fenomena kyai palsu tersebut (maaf ya, ini aku jadikan contoh terus karena mungkin hampir semua orang telah tahu kisahnya) bisa dibuat anekdot hingga ratusan jumlahnya, tentu dengan cerita yang berbeda-beda pula. Ini coba aku buat anekdot yang mudah-mudahan lucu:

Salah Dengar

contoh teks anekdot salah dengar

via pinterest.com

Suatu hari sang kyai yang konon punya ilmu sakti bisa menggandakan apapun itu akhirnya tertangkap basah telah melakukan penipuan sekaligus pembunuhan terhadap korban yang menurut para saksi, korban tersebut merupakan pengikutnya. Sang polisi menginterogasi pak kyai di kantor polisi.

Polisi         :   Kenapa anda membunuh murid anda sendiri?

Pak Kyai    :   Karena saya salah dengar pak?

Polisi         :   Maksudnya? Anda jangan mengada-ada!

Pak Kyai     :   Sumpah pak, demi Allah, berbohong itu dusta! Lagipula saya ini kyai dan tidak mungkin berbohong. Saya salah dengar dengan permintaan murid saya. Oleh karena itulah dengan berat hati saya membunuhnya atas permintaan murid saya sendiri. Jadi menurut saya hal ini tidak melanggar hukum sekaligus bukan perbuatan dosa.

Polisi         :   Jangan bohong ya! Ceritakan yang sesungguhnya atau akan kami gandakan hukumanmu!

Pak Kyai     :   Tidak pak, saya tidak bohong. Tolong jangan gandakan hukuman saya. Jadi begini pak, suatu hari murid itu meminta saya sambil memohon-mohon. Saya nggak tega lalu saya Tanya:  ”apa yang bisa kubantu muridku?”   lantas murid saya menjawab:   ”Tolong gandakan istri saya guru, saya sudah nggak tahan.”   Nah, karena waktu itu saya agak kurang enak badan, maka saya kurang begitu jelas mendengar permintaan murid saya pak polisi, saya dengarnya begini:   ”….tolong jandakan istri saya guru, saya sudah tidak tahan…”   maka saya dan murid saya yang lain dengan berat hati membunuhnya pak polisi. Dengan demikian istrinya telah saya jandakan.

Polisi         :   Woalah, sontoloyo!

# # # # #

Nah, teman-teman, teks tersebut bisa disebut sebagai teks anekdot karena terks tersebut berasal dari kenyataan atau fenomena sosial dalam kasus kyai yang menjadi tersangka penipuan penggandaan uang serta pembunuhan.

Anekdot dalam hal ini merupakan suatu respon atas terjadinya insiden tersebut sekaligus menjadi cara untuk membicarakan kasus tersebut dengan cara yang lucu sekaligus menyindir.

Tak hanya tersangka yang akan tersindir, namun barangkali juga kyai-kyai palsu lainnya yang mengatasnamakan agama demi keuntungannya sendiri dan barangkali juga sebagian masyarakat yang pernah tertipu dengan kasus serupa.

Baiklah, sekarang kita bandingkan dengan cerita lucu pada bagian berikutnya.

Pengertian Cerita Lucu dan Contohnya

Nah teman-teman, kalau cerita lucu lain lagi; cerita lucu dibuat dengan tujuan utama menciptakan kelucuan atau menimbulkan tawa bagi pembacanya.

Cerita lucu tak harus berdasarkan pada kisah nyata yang artinya cerita ini bisa dibuat dengan lebih bebas, bahkan kita boleh-boleh saja membuat cerita lucu haya dengan mengandalkan imajinasi; yang penting lucu.

Memang benar cerita lucu dibuat dengan gaya, unsur, struktur, atau jenis teks yang sama dengan anekdot, tetapi perlu dicatat bahwa seluas-luasnya atau sebebas-bebasnya cerita lucu, cerita tersebut haruslah lucu.

Hal ini jelas sangat berbeda dengan teks anekdot yang kadang-kadang tidak lucu karena tujuan utama anekdot bukanlah untuk membuat lelucon, namun lebih menekankan pada unsur historisnya sekaligus harus menimbulkan kesan yang membuat pembaca tertarik, teringat, tersentuh dan bisa mengambil sikap tertentu setelah membaca teks anekdot.

Untuk mengenali cerita lucu dengan lebih baik, memang baiknya kita gunakan contoh. Nah, aku akan membuat contoh cerita lucu dan mudah-mudahan contoh ini lucu (saya memang agak pesimis untuk membuat cerita lucu karena…mmm…karena…tidak mudah membuat karangan cerita yang lucu).

Teks ini aku tulis tidak berdasarkan fenomena sosial manapun sehingga teks ini tidak tepat jika dikatakan sebagai anekdot, terlebih teks lucu ini tidak memiliki intensitas untuk mengkritik atau menyindir pihak manapun karena murni dibuat untuk sebisa mungkin menimbulkan tawa (mudah-mudahan):

Gara-Gara 1000 Rupiah

cerita lucu gara-gara seribu rupiah

via uangkuno-rupiah.blogspot.com

Suatu malam, seorang pebisnis paruh baya ingin bercinta dengan istrinya. Ia harus bercinta malam itu karena besoknya ia harus pergi ke luar negri selama tiga bulan untuk mengurus urusan bisnisnya.

Ia suami yang baik dan setia dan tak mau selingkuh dengan perempuan lain. Satu hal lagi, lelaki ini sangat pelit dan wajar saja kalau ia kaya raya, memiliki istri cantik pula meski usianya sudah kepala empat.

Pasangan itu, ngomong-ngomong, sudah memiliki 9 anak yang semuanya mirip sekali dengan artis korea, berkulit putih, bersih, mulus seperti ayah-ibunya.

Karena sudah memiliki sembilan anak, maka pasangan ini pada akhirnya harus menyerah dan mau tak mau harus rela menggunakan alat kontrasepsi agar tidak lagi memiliki anak (sebelumnya tidak pernah karena sang suami tak rela mengeluarkan uang untuk membeli alat kontrasepsi) karena semakin banyak anak, semakin banyak pula pengeluarannya.

Lalu sebelum mereka bercinta, lelaki itu berbisik pada istrinya:   “Ma, papa beli helm dulu ya, persediaan kita ternyata sudah habis”.   Balas istrinya:   “Iya pa, jangan lama-lama ya!”   lalu sang suami ini pergi keluar (jalan kaki biar irit) ke kios yang tak jauh dari rumah.

Sementara itu di rumah yang kebetulan sedang sepi dan hanya ada sang istri saja, ternyata sejak tadi telah ada maling yang mengintai. Maling ini tak hanya gemar mencuri, tetapi juga pemerkosa yang lihai.

Kali ini sasarannya adalah perhiasan serta istri dari lelaki itu. Maka hal pertama yang dilakukan maling itu adalah memadamkan listrik.

Sang istri tidak tahu kalau ada maling yang memadamkan listrik rumah, ia hanya mengira mati lampu dan karena ia sudah tidak berpakaian lagi (hanya berselimut menunggu suaminya pulang) maka ia tak beranjak kemana-mana bahkan untuk sekedar mencari lilin atau senter; ia berniat menunggu suaminya pulang dan berharap suaminya yang akan menggurus lilin jika lampu belum menyala lalu mereka bercinta.

Ngomong-ngomong, si maling ini memiliki ras yang berbeda dengan pasangan suami istri tersebut; jika sang suami istri ini berkulit putih, maka kebetulan sekali si maling ini berkulit hitam dan berambut keriting.

Setelah memadamkan listrik, si maling tak langsung mencuri tetapi langsung masuk ke kamar nyonya rumah; tak berkata apapun ia langsung meniduri si nyonya rumah. Nah, si nyonya rumah ternyata tidak mengira bahwa yang menidurinya adalah maling (karena gelap dan sedikit mengantuk gara-gara si suami kelamaan pergi cari “helm”) dan ia pasrah saja karena mengira maling itu adalah suaminya.

Setelah puas, maling pun langsung pergi, tak jadi mencuri apa-apa dan tak lupa ia menyalakan kembali listrik rumah itu. Si nyonya tertidur karena capek.

Sementara itu, si suami sedang sibuk memilih helm eceran yang paling murah, ia Tanya sama penjualnya;   “mas kondomnya harga berapa aja ya?”   penjualnya menjawab:   “Yang kuning 5000, yang merah 3000, yang hijau 2000, dan yang hitam 1000 pak.”   Lalu si suami ini langsung saja berkata:   “Yang hitam ya mas, satu saja”.   Sambil menyerahkan 2 keping lima ratusan lalu langsung bergegas pulang.

Sesampainya di rumah, sang suami langsung menuju kamar istrinya. Melihat istrinya sudah tertidur, maka ia membangunkannya:   “Ma…ma…kok sudah tidur?”   si istri menjawab:   “papa mau lagi?”   jelas saja sang suami tidak paham dan tidak peduli karena kebelet pengen. Maka ia langsung saja bergumul dengan istrinya.

Keesokan paginya, semuanya berjalan normal karena tidak ada yang mengira kalau ada maling yang telah ehmm…dan sang suami berpamitan untuk pergi keluar negri.

Tiga bulan kemudian, sang suami pulang dan mendapati istrinya yang tengah hamil. (tentu sebelumnya sang istri bilang lewat telfon kalau ia hamil dan sang suami mengutuk kondom murahan yang ia beli).

Sembilan bulan kemudian anak mereka lahir dengan sehat dan selamat, berkulit hitam, berambut keriting. Kedua pasangan ini heran dan dalam hati sang suami mengutuk sekali lagi kondom murah yang ia beli.

Sembilan tahun kemudian, saat ada acara keluarga, si bungsu ini akhirnya bertanya pada ayahnya karena ia tak habis pikir kenapa ia sangat berbeda dengan saudara dan saudarinya.

“Papa, kenapa ya aku kok hitam? Kakak-kakakku kan putih semua?”   sang ayah dengan agak sedikit jengkel (karena teringat kondom murahan itu) menjawab:   “Masih untung kamu berkulit hitam, tak tambahin 1000 rupiah lagi kamu jadi ijo!”.

# # # # #

Nah, jika teman-teman sekalian menyimak, teks tersebut tentu tidak nyata alias fiksi yang tidak berasal dari kisah nyata.

Contoh tersebut jelas berbeda dengan contoh anekdot yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya; teks yang berasal dari fenomena di masyarakat yang telah populer terlebih dahulu melalui media masa.

Anekdot yang dicontohkan ada bagian sebelumnya jelas ada unsur sindiran sekaligus cemoohan kepada oknum yang dijadikan wacana dalam teks anekdot sementata teks humor yang dijadikan contoh ini bahkan tidak memiliki dasar realitas yang sebenarnya.

#2. Perbedaan Anekdot dan Cerita Lucu Dilihat dari Ide Cerita

Dari penjelasan pada bagian sebelumnya, kiranya kita bisa membuat rincian perbedaan antara anekdot dan cerita humor.

Nah, pada bagian ini kita bisa membedakan anekdot dan cerita lucu dari segi ide ceritanya. Kita pilah satu persatu ya teman-teman:

Ide Cerita Anekdot

  1. Tidak terbatas pada fenomena/peristiwa nyata tertentu, misalnya peristiwa lucu saja sehingga ide cerita anekdot ini bahkan bisa juga berupa cerita sedih, cerita heroik, cerita romantis, dan lain sebagainya.
  2. Menitik beratkan pada persitiwa nyata/ kisah tokoh-tokoh nyata yang sekiranya telah dikenal publik seperti misalnya peristiwa korupsi yang dilakukan tokoh tertentu.
  3. Pengalaman hidup Albert Einstein yang pernah dikira bodoh, pencabulan yang dilakukan selebritis tertentu, dan lain sebagainya; semakin kontroversial maka semakin memancing untuk dijadikan anekdot.

  4. Menitik beratkan ide cerita yang bermuatan kritik dan sindiran serta sesuatu yang menarik dan kalau bisa lucu sehingga anekdot ini bisa menohok.

Ide Cerita Lucu

Ide cerita lucu ini bisa terinspirasi dari pengalaman konyol seseorang atau hanya sekedar imajinasi dan ide cerita ini fokus pada satu hal, yakni sesuatu yang lucu untuk dibuat cerita.

#3. Perbedaan Anekdot Dan Cerita Lucu Dilihat dari Tujuannya

Selain melalui definisi dan ide cerita, kita juga bisa melihat perbedaan anekdot dan cerita lucu ini berdasarkan tujuannya (tujuan dari teks ini dibuat):

Tujuan Teks Anekdot

  1. Mendokumentasikan fenomena nyata yang menarik, hot, kontroversial dalam bentuk teks yang rileks untuk dibaca.
  2. Menitik-beratkan pada kritik dan sindiran.
  3. Kalau bisa ya dibuat lucu sehingga anekdot ini juga bisa menjadi sarana hiburan.
  4. Peduli pada hal yang bersifat edukatif.
  5. Memiliki misi yang mulia; merubah kehidupan agar menjadi lebih baik (bilamana teks anekdot ini merupakan teks yang mengkritisi fenomena sosial yang tidak beres).

Tujuan Cerita Lucu

Murni diciptakan dengan tujuan membuat para pembaca tertawa dan terhibur

#4. Perbedaan Anekdot Dan Cerita Lucu Dilihat dari Fungsinya

Terakhir, kita bisa melihat perbedaan anekdot dan cerita lucu melalui fungsinya sebagai teks. Berikut uraian singkatnya:

Fungsi Teks Anekdot

  1. Menjadi sarana dialektika yang tajam sekaligus menghibur.
  2. Sarana kritik yang efisien.
  3. Menjadi sarana edukasi yang menyenangkan.
  4. Menjadi dokumen sejarah non formal.

Fungsi Cerita Lucu

Menjadi sarana hiburan yang singkat dan lucu

Nah, teman-teman, demikianlah yang bisa aku bagikan terkait dengan 4 cara untuk membedakan teks anekdot dengan cerita lucu. Semoga artikel ini bermanfaat (sekaligus menghibur).

Sharing is Caring

«

»


KATEGORI

BACAAN TERKAIT

Copyright © 2018 GudangPelajaranContact / Privacy Policy / Copyright / IP Policy / Term of Service
Top