GudangPelajaran

Kumpulan Materi Pelajaran

5+ Kumpulan Teks Anekdot Terbaru Lengkap Beserta Analisis dan Penjelasannya

August 30, 2017

Buat kamu-kamu yang sedang mencari refrensi untuk tugas sekolah atau sekedar mencari hiburan tentang anekdot, maka tak salah jika kamu membuka dan membaca artikel ini selengkapnya.

Karena artikel ini tak hanya berisi teks-teks anekdot terbaru tapi juga disertai dengan analisis struktur dan telaah singkat tentang unsur ekstrinsik dari teks anekdot yang disajikan.

Sebagai panduan singkat untuk membaca teks anekdot berikut ini, analisis struktur telah disediakan langsung pada bagian tubuh teks yang disusul dengan analisis unsur ekstrinsik yang berada pada bagian akhir pada tiap-tiap teks anekdot yang disajikan.

Namun sebelum langsung masuk pada sajian teks anekdot pada artikel ini, ada baiknya kamu baca juga bagian pendahuluan.

Pendahuluan: Mengenal Anekdot Dan Strukturnya

Sebelumnya aku pernah menulis secara lebih komplit mengenai pengertian teks anekdot. Namun pada artikel ini aku akan menjelaskan secara singkat pengertian dari anekdot dan unsur-unsur intrinsik dari teks anekdot (struktur umum anekdot).

Secara sederhana dan universal, teks anekdot bisa diartikan sebagai suatu bentuk cerita singkat yang menarik dan (biasanya) lucu tentang kejadian-kejadian nyata.

Namun demikian, teks anekdot juga sangat khas dikenal sebagai cerita berisi sindiran atau pujian terhadap orang/tokoh tertentu yang telah melakukan sesuatu yang berkenaan dengan banyak orang.

Tak hanya itu, teks anekdot bisa juga memuat kritik pedas dengan nuansa yang lucu atau tidak tentang suatu fenomena nyata yang terjadi di masyarakat, misalnya teks ini mengkritik pejabat-pejabat korup atau institusi yang menyeleweng dari fungsinya.

Meski kebanyakan dari teks anekdot itu lucu, namun bukan berarti teks ini bisa disamakan dengan teks humor lho karena pengertiannya sangat jauh berbeda. Kamu bisa membaca ini selengkapnya pada pembahasan perbedaan anekdot dan cerita lucu.

Kemudian, apa saja sih unsur-unsur yang menjadi struktur dari anekdot?

Secara umum, struktur anekdot tersusun dari abstraksi (pendahuluan atau latar belakang cerita yang dimunculkan pada bagian paling awal dari teks anekdot), orientasi (bagian ini merupakan eksplorasi awal cerita yang berfungsi sebagai teks yang memperkenalkan cerita anekdot secara lebih detail dari yang ada pada abstraksi.

Orientasi ini bahkan bisa muncul pada bagian aksi-reaksi/percakapan dalam cerita), krisis (disebut juga sebagai konflik atau bagian yang boleh dibilang paling seru atau menegangkan dalam cerita khususnya di bagian aksi-reaksi.

Pada bagian ini, biasanya kritik mulai dimunculkan), koda (penutup cerita yang biasanya justru berisi gong puncak dari krisis; namun bisa juga tidak. Yang pasti, koda ini selalu muncul pada bagian akhir teks anekdot).

Selain unsur intrinsik tersebut, anekdot tentu saja memiliki unsur ekstrinsik, yakni isi teks yang berkenaan dengan fenomena yang disampaikan.

Unsur ini biasanya bisa langsung terbaca melalui tema anekdot tersebut atau isu yang sedang dibicarakan. Unsur ini boleh juga disebut sebagai tafsir yang mungkin dimunculkan melalui pembacaan atas teks anekdot tersebut.

Oke kawan-kawan, tanpa harus berpanjang lebar lagi, mari kita simak satu persatu kumpulan teks anekdot yang disajikan berikut ini:

Kumpulan Teks Anekdot #1 – Anggota DPR

kumpulan teks anekdot #1 – anggota dpr

kompas.com

Abstraksi:

Suatu hari di gedung DPR, ada Gareng (dari Partai Budidaya Humor Indonesia), Petruk (dari Partai Pergaulan Rakyat), dan Bagong (dari Partai Demonstrasi Indonesia) sedang berdebat.

Orientasi:

Gareng : Wah, kayaknya asik nih kalau minggu depan kita agendakan kunjungan kerja lagi. Enaknya mana ya? Jepang? Korea Selatan? Atau Tiongkok?

Petruk : Ah, kamu Reng! Jangan keseringan, nggak enak sama dinas lainnya. Nanti dikira kita kerjanya cuma jalan-jalan. Memang asik sih, udah bisa pergi-pergi gratis, makanan gratis, tempat menginap gratis, dapat uang saku pula, hahahaha!!!

Gareng : Lha kalau nggak jalan-jalan kita mau ngapain lagi? Agenda kita kan udah setengah jadi, boikot Jakarta udah, ajukan hak angket udah, mending kan jalan-jalan daripada disuruh rapat lagi. Males ah, kemaren aja aku udah 3 kali nggak hadir rapat gara-gara agedanya itu terus.

Petruk : Ya maksudku jangan mencolok lah, biar kita nggak disorot media. Eh, Gong…Bagong, tumben kayak puyeng terus dari tadi mainan HP.

Krisis:

Bagong : Penting ini, lagi liat doi nongol di acaranya si Mata Nana! Anjrit, doi ngancem kalau kepilih lagi besok partai kita bertiga bakal nggak dapat tempat di DPRD bror!!! Hak angket kita harus buruan kelar nih….

Gareng : Nah kan kubilang apa, mendingan kemaren itu kita nggak usah senggol-senggol urusan doi. Kalau doi menang kita juga yang kena getahnya. Makanya punya pendirian itu kayak partai gua, jalan-jalan nomor satu biar otak seger, biar bisa nglawak terus tiap hari. Coba kalau nggak ada partai gua, DPR ini nggak ada lucu-lucunya.

Petruk : Ah, gitu aja bangga! Kalau nggak ada partai gua, mana mungkin kita bisa gaul di masyarakat. Tu, partainya si Bagong lebih parah dari punya lu Truk, masak kerjaannya ngumpulin tukang demo. Itu tuh yang ngabis-ngabisin anggaran. Udah ngabisin duit, gak berhasil pula!

Bagong : Kampret, mulut kalian tu juga dah dapet jatah kok pakek protes. Kalau nggak ada acara demo-demo gini, mana ada program kalian yang konyol itu bisa dapat dana! Udah ini aja dulu, gimana caranya angket kita berhasil…

Koda:

Petruk : Ah elu mah, santai. Lu suruh aja si onta bikin onar lagi. Fitnah siapa kek, beres kan! Ga usah angket. Paling juga ga kepilih si doi! Lawannya kan udah nyebar ranjau darat di mana-mana!

# # # # #

Analisis Ekstrinsik - Kumpulan Teks Anekdot #1 – Anggota DPR

Tokoh Petruk, Gareng, dan Bagong merupakan metafora tokoh-tokoh pejabat DPR yang oportunis dan mementingkan kepentingan kelompoknya daripada memikirkan kepentingan rakyat; hal ini tampak pada dialog-dialog fiktif yang disampaikan melalui tokoh-tokoh metafora tersebut.

Contoh teks anekdot tersebut boleh dibilang sindiran ekstrim untuk beberapa fraksi di DPR yang saat ini lagi menjadi sorotan media karena memunculkan hak angket untuk menjegal lawan politik mereka.

Isu ini sempat diangkat dalam debat antar dua kubu yang ditayangkan dalam salah satu stasiun televise di Indonesia dan anekdot ini dibuat sebagai fiksi yang terinspirasi dari ucapan-ucapan anggota DPR yang debat.

Diluar hal itu (proses penulisan teks tersebut), dalam teks tersebut khususnya pada bagian dialog tokoh-tokohnya, kita bisa langsung familiar dengan isu yang dimunculkan karena demikianlah; terlalu banyak hal aneh yang tidak membuat kita nyaman dengan kerja DPR.

Memang tidak semua anggota DPR buruk sih, tetapi seperti kata pepatah, nila setitik merusak susu sebelanga. Anggota DPR lebih sibuk berperang satu sama lain dari pada melayani rakyat karena konsekuensinya memang demikian.

DPR berisi anggota dari berbagai fraksi partai politik yang sejatinya mereka itu saling memusuhi (sebagai lawan politik dengan berbagai perbedaan kepentingan yang berakhir pada rebutan dana anggaran yang diturunkan).

Demikianlah, teman, lembaga DPR ini selalu menjadi sasaran empuk untuk dijadikan bahan kritik khusunya dalam teks anekdot.

Yak, sisanya kamu yang menelaah ya teman-teman. Kita lanjut ke teks berikutnya:

Kumpulan Teks Anekdot #2 – Kicauan Burung Kenari

kumpulan teks anekdot #2 – kicauan burung kenari

youtube.com

Abstraksi:

Suatu hari di kebun binatang, dua ekor burung kenari sedang ngobrol.

Orientasi:

Kenari 1 : Halo bung, apa kabar! Kicauanmu tadi pagi oke banget. Nyampe di pohon sebelah pas aku lagi sarapan.

Kenari 2 : Oh ya? Wah aku malah nggak nyangka kalau kicauanku sampai sana.

Kenari 1 : Nggak Cuma sampai sana lho, masak kamu nggak tahu sih kalau kicauanmu sudah sampai kemana-mana dan diikuti banyak burung lainnya. Hihihi.

Krisis:

Kenari 2 : Ya habisnya aku kesel sama si Beo tua itu. Kicauannya 2 mingguan yang lalu tuh lebay dan bikin mual! Ya udah gua iseng aja berkicau tentang doi pagi ini, biar anget lagi kebun binatangnya!

Kenari 1 : eh, tapi ini udah sekitar dua minggu lho doi nggak berkicau!

Kenari 2 : Gimana mau berkicau lha wong anaknya gagal jadi raja kebun binatang, kalah jauh sama pasangan burung Garuda dan pasangan Burung Onta. Mungkin gara-gara doi berkicau tuh jadi turun pamor anaknya!

Koda:

Kenari 1 : Haahaha…betul juga…atau kalau nggak doi lagi sariawan. Lha soalnya kemaren pas baru berkicau lidahnya kesengat tawon!

# # # # #

Analisis Ekstrinsik - Kumpulan Teks Anekdot #2 – Kicauan Burung Kenari

Teks anekdot di atas bisa dibilang merupakan teks yang unik karena tokoh yang ada dalam cerita merupakan para burung dalam setting kebun binatang.

Meski demikian, kita bisa langsung dengan mudah mengenali pokok persoalan yang terkandung dalam teks tersebut.

Dari metafora ‘kicauan’ tentu kita bisa langsung merujuk pada kicauan manusia yang di sampaikan melalui akun media social dan tentunya kicauan yang paling hangat saat ini adalah kicauan mantan bapak kita yang senantiasa trenyuh dan nggak rela kalau negaranya tidak seperti yang ia kehendaki.

Kicauan itu sempat menjadi polemik ketika akan diselenggarakan pemilihan gubernur di ibukota Negara dan tiba-tiba senyap ketika anak mantan bapak kita kalah telak dalam pilkada tersebut.

Kumpulan Teks Anekdot #3 – Meramal Masa Depan

kumpulan teks anekdot #3 – meramal masa depan

pinterest.com

Abstraksi:

Suatu hari di sekolah, pak guru yang terkenal suka sulap dan meramal saat sedang mengajar mencoba menebak masa depan murid-muridnya.

Orientasi:

Pak guru: Baik, sambil menunggu jam pelajaran selesai sebentar lagi, bagaimana kalau bapak menebak masa depan kalian. Ada yang mau?

Andi: Saya pak!

Pak Guru: Andi, kamu itu cerdas, jujur, sabar, telaten, dan suka membaca. Kelak kamu akan jadi sastrawan atau peneliti.

Susi: Kalau saya pak?

Pak Guru: Hmm…kamu itu cantik, modis, tulisan tanganmu rapi. Besok kamu akan jadi designer.

Dedi: Aku mau pak!

Pak Guru: Kamu sangat pandai dedi, besok kamu bisa jadi dokter atau ilmuwan saja.

Slamet: Bagaimana dengan masa depan saya pak?

Koda:

Pak Guru: Wah…kalau kamu ini gimana ya…kamu tuh suka bolos, malas, sering bohong, suka php…kamu cocoknya jadi anggota DPR aja deh!

# # # # #

Analisis Ekstrinsik - Kumpulan Teks Anekdot #3 – Meramal Masa Depan

Melalui tokoh Slamet dan Pak Guru dalam teks anekdot tersebut, maka boleh dibilang teks anekdot tersebut cukup singkat dan cukup jelas dalam mengkritik citra yang dimiliki oleh DPR karena ada saja anggotanya yang malas, suka membolos, sering php, dan suka bohong.

Pastinya hal ini sangat mengesalkan dan patut dikritik mengingat gaji anggota DPR sangat besar namun kinerjanya berbanding terbalik (ini nggak semua lho ya, hanya orang-orang tertentu yang memang mengesalkan).

Kumpulan Teks Anekdot #4 – Penyuluhan Pemilu

kumpulan teks anekdot #4 – penyuluhan pemilu

sman2purworejo.sch.id

Abstraksi:

Di sebuah sekolah SMA, pak guru dan tim KPU memberikan pengenalan singkat terkait pemilu di kelas 3 yang rata-rata usia siswanya telah memenuhi syarat untuk menjadi pemilih.

Orientasi:

Pak Guru: Baik anak-anak, tadi sudah dijelaskan ya mengenai tata cara mencoblos. Sekarang bapak mau tanya, mumpung kalian sudah dapat hak pilih, sebelum nantinya kalian memilih, ada baiknya kita belajar dahulu tentang makna pemilu. Kira-kira apa tujuan pemilu:

Krisis:

Budi: Memilih pemimpin yang seagama pak!

Pak guru: Hmmm…baiklah, ada pendapat lain?

Susan: Memilih pemimpin yang cerdas dan jujur pak.

Pak Guru: Bagus, lainnya?

Agus: Memilih pemimpin yang mau kasih uang ke rakyat pak…

Pak Guru: Eee….ada pendapat lain?

Dewi: Memilih pemimpin yang bekerja dengan sungguh-sungguh untuk rakyat pak.

Pak Guru: Yak, baiklah. Nah, bagaimana kalau begini…jadi…jika seumpama kita mempunyai calon yang tidak seperti yang kalian sebutkan tadi bagaimana dong?

Joko: Golput aja pak!!!

Pak Guru: Wah, kalau golput juga nggak memecahkan masalah dong!

Joko: Kalau nggak golput nanti ujung-ujungnya juga kecewa dengan pemimpin yang kita coblos…kan nggak seperti kriteria yang tadi di sebut teman-teman pak?

Andi: Menurut saya pak, susah cari pemimpin yang ideal. Tapi begini pak, menurut saya pemilu itu bukan untuk memilih pemimpin sempurna pak, tetapi untuk mencegah pemimpin buruk menjadi penguasa.

Pak Guru: Bagaimana kita tahu pemimpin yang buruk Andi?

Andi: pakai google translate pak…

Pak Guru: Lho kok?

Koda:

Andi: Jadi kita transkrip dahulu omongannya pas kampanye atau pas debat, lalu masukan saja ke google translate. Kalau eror maka itu omongan pemimpin yang buruk pak….

# # # # #

Analisis Ekstrinsik - Kumpulan Teks Anekdot #4 – Penyuluhan Pemilu

Kalau teks anekdot yang ini boleh dibilang masih berkaitan dengan panasnya isu-isu seputar pilkada DKI sekaligus kritikan untuk calon pemimpin.

Bukan lagi rahasia bahwa tidak semua calon pemimpin itu memiliki kompetensi untuk memimpin karena bisa saja ia melakukannya atas desakan pihak tertentu.

Namun apapun itu, dalam teks tersebut tertulis bahwa pemilu itu bukan untuk memilih pemimpin yang terbaik, melainkan mencegah pemimpin terburuk berkuasa karena bila pemimpin buruk berkuasa masyarakatlah yang terkena imbas buruknya.

Kumpulan Teks Anekdot #5 – Tebak-tebakan

kumpulan teks anekdot #5 – tebak-tebakan

radarcirebon.com

Abstraksi:

Suatu hari, di pagi hari yang cerah ada dua orang jompo sedang main tebak-tebakan di panti jompo sambil menunggu jam sarapan dimulai.

Orientasi:

Mbah Jem: Main tebak-tebakan yuk biar nggak bosen. Udah lama anak cucuku nggak nengok ke panti jompo..

Mbah Pol: Boleh…sama dong…aku udah 2 bulan nggak di tengok…padahal dulu pas anak-anakku masih bayi, aku ngak pernah tidur lho gendong mereka. Ya sudah lah… dimaklumi saja, anak jaman sekarang…main tebak-tebakan apa?

Mbah Jem: Apa bedanya jangkrik hitam dengan jangkrik merah?

Mbah Pol: Wah…kok nggak mutu…jangkrik hitam itu ya warnanya hitam, kalau jangkrik merah ya warnanya merah

Mbah Jem: Wah…masa mudamu garing nggak pernah pacaran ya….salah!

Mbah Pol: Lha apa jawabannya?

Krisis:

Mbah Jem: Gampang, gitu aja nggak bisa! Jangkrik hitam itu warnanya hitam kalau jangkrik merah itu warnanya merah!!!

Mbah Pol: Lha kan tadi aku jawab itu?

Mbah Jem: Ah, masak…bukan ah!

Mbah Pol: Masak sih bukan?

Mbah Jem: Kayaknya bukan…aku lupa…

Mbah Pol: Ya sudah! Apa bedanya jangkrik dengan pejabat DPR?

Mbah Jem: Ah, ini aku langsung tahu! Kalau jangkrik berbunyi tikusnya kabur, kalau anggota DPR berbunyi tikusnya datang!

Mbah Pol: Wahahaha….salah!

Mbah Jem: Lha apa jawabannya?

Mbah Pol: kalau anggota DPR berbunyi tikusnya datang, kalau jangkrik berbunyi tikusnya kabur!

Koda:

Mbah Jem: Kayaknya aku mulai pikun…sarapan dulu aja yuk biar nggak salah paham!

# # # # #

Analisis Ekstrinsik - Kumpulan Teks Anekdot #5 – Tebak-tebakan

Lagi-lagi DPR yang selalu diolok-olok. Ya mau bagaimana lagi, soalnya media masa selalu menyorot keburukan DPR, social media selalu membicarakan keburukan DPR sehingga seolah-olah lembaga DPR itu malah jadi persoalan dan benalu negara dari pada institusi yang menyuarakan jerit kesedihan masyarakat.

Ya, bagaimana kita tahu kebaikan dari DPR bila yang menjadi berita selalu keburukan? Entah ini benar atau tidak, setidaknya sejak zaman Iwan Fals bikin anekdot lewat lagunya, hingga sekarang DPR citranya tetap sama: buruk.

Dari teks tersebut, si mbah Pol membuat teka-teki apa bedanya jangkrik dengan DPR.

Apa saja ya misalnya ulah DPR yang bikin gemes? Dari berita di TV, misalnya DPR minta anggaran yang terlalu besar untuk mobil mewah anggota, untuk toilet, untuk fasilitas gedung, untuk ini dan itu sementara itu instansi lain di bawah DPR justru malah terlihat manfaatnya di mata rakyat meski hanya diberi fasilitas seadanya saja oleh pemerintah, misalnya; puskemas, kantor kelurahan hingga kantor catatan sipil dan lain sebagainya yang tugasnya langsung berkenaan dengan kebutuhan masyarakat.

Kumpulan Teks Anekdot #6 – Mau Nikah?

kumpulan teks anekdot #6 – mau nikah

pinterest.com

Abstraksi:

Dua pasang kekasih sedang bermesraan di hutan pada hari minggu siang yang cerah. Yang lelaki adalah pejabat muda dan yang perempuan adalah karyawan swasta yang cantik jelita.

Orientasi:

Lelaki : Lihat di dahan itu dik, ada seekor burung dari tadi lihatin kita. Mungkin dia iri.

Perempuan : Hahaha, mas ini ada-ada saja.

Lelaki : Ya pasti iri lah dik…khususnya iri sama aku, siapa yang nggak iri kalau aku punya kekasih secantik kamu.

Perempuan : Ih…rayuan gombal lagi…(sambil mencubit dada kekasihnya)

Lelaki : Dik, mau nggak kamu nikah dengan aku?

Perempuan : Mau mas (sambil malu-malu)

Lelaki : Andaikan aku seorang bajingan, kamu masih mau?

Perempuan : Asal tetap cinta sama aku dan tetap setia aku mau mas…

Lelaki : Andaikan aku seorang maling kamu tetap mau?

Perempuan : Asal tetap cinta sama aku dan tetap setia aku mau mas…

Lelaki : Andaikan aku binatang jalang kamu tetap mau?

Perempuan : Asal tetap cinta sama aku dan tetap setia aku mau mas…

Lelaki : Andaikan aku tidak jantan lagi kamu mau?

Perempuan : Asal tetap cinta sama aku dan tetap setia aku mau mas…

Lelaki : Betapa senang hatiku…

Perempuan : Ya mau lah mas, kan kamu pejabat, bukan semua ungkapan yang mas sampaikan tadi…

Lelaki : Hahaha, lha kalau aku ini pejabat yang bajingan, maling, korup, dan tidak jantan, memangnya mau?

Perempuan : Mau mas…pokoknya mau deh, asal mas ngabulin semua permintaanku…

Krisis:

Lelaki : Tapi dik..

Perempuan : Apa mas?

Lelaki : Kita hanya bisa nikah siri lho…

Perempuan : Woo…baji**an kampret hidung belang pejabat murahan!!!!!!!

Koda:

Setelah itu si perempuan menampar muka kekasihnya dua kali, kanan dan kiri, lalu pergi dengan perasaan yang kesal ternyata selama ini ia telah dikibuli.

# # # # #

Analisis Ekstrinsik - Kumpulan Teks Anekdot #6 – Mau Nikah?

Pasti kita sering menjumpai istilah kawin siri; yakni perkawinan yang secara islam sah (dengan cara ini pasangan terhindar dari perbuatan zina) tetapi secara hukum atau bahkan secara adat kurang afdol karena praktik kawin siri ini sering dimanfaatkan oleh pihak lelaki.

Sebagai istri siri, pihak perempuan tidak memiliki jaminan hukum seperti misalnya jaminan ekonomi atau tanggung jawab pihak lelaki untuk membesarkan anak dari istri siri sehingga bilamana sang istri siri ditinggalkan begitu saja, tentu si istri ini tidak memiliki hak untuk menuntut (secara hukum).

# # # # #

Oke teman-teman, kiranya artikel ini harus berakhir sampai disini. Tentu dari beberapa contoh kumpulan teks anekdot tersebut serta contoh analisisnya, kalian bisa mengembangkan lagi untuk membuat analisis atau telaah baru.

Sharing is Caring

«

»


KATEGORI

BACAAN TERKAIT

Copyright © 2018 GudangPelajaranContact / Privacy Policy / Copyright / IP Policy / Term of Service
Top