GudangPelajaran

Kumpulan Materi Pelajaran

5 Contoh Terbaru Cerita Anekdot Di Sekolah Lengkap Beserta Penjelasan dan Analisis Strukturnya

March 25, 2017

Artikel berikut ini tidak hanya berisi contoh-contoh cerita anekdot di sekolah namun juga ulasan tentang pengertian dan analisis struktur dari contoh anekdot tersebut, sehingga jika kamu tertarik untuk mempelajari teks anekdot tentang sekolahan maka artikel ini wajib kamu baca.

Sekilas Tentang Cerita Anekdot Di Sekolah

Halo teman-teman semua, apakah ada diantara kalian yang masih asing dengan apa sih yang dimaksud dengan anekdot? Lalu apa sih cerita anekdot di sekolah?

Singkat kata, anekdot merupakan cerita singkat dan menarik yang berbasis pada peristiwa nyata.

Bisa jadi teks anekdot merupakan sebuah fiksi namun berbeda dengan fiksi lainnya, fiksi anekdot merupakan teks yang asal-usulnya selalu dari peristiwa nyata yang menarik, penting, dan perlu diketahui oleh orang banyak.

Yang menjadi ciri khas dari cerita anekdot adalah adanya unsur kritik yang disampaikan dengan nuansa humor atau lucu sehingga kadang kala teks anekdot ini malah mirip teks humor (meski keduanya merupakan jenis teks yang berbeda).

Nah, teman-teman bisa memahami tentang pengertian anekdot ini lebih lengkap pada link berikut ini: pengertian teks anekdot.

Cerita anekdot di sekolah merupakan jenis anekdot yang secara spesifik membahas fenomena-fenomena yang terjadi di sekolah. Pastinya teman-teman tidak asing dengan berbagai kejadian yang ada di sekolah, misalnya guru korupsi, sering jam kosong, murid dihukum, tawuran, Ujian Nasional, dan lain-lain.

Pasti teman-teman juga memiliki pengalaman tersendiri ketika berada di sekolah. Sejauh kemudian fenomena tersebut merupakan fenomena penting dan layak diketahui khalayak umum, maka fenomena tersebut bisa dijadikan teks anekot yang menarik untuk dibaca.

Oke, agar teman-teman lebih jelas mempelajari hal ini, sebaiknya kita gunakan contoh ya! Baca contoh-contoh cerita anekdot di sekolah beserta penjelasan dan analisis strukturnya berikut ini:

Contoh #1 Cerita Anekdot Di Sekolah "Latihan Soal"

contoh #1 cerita anekdot di sekolah, latihan soal

pinterest.com

Di bulan-bulan mendekati Ujian Nasional, hampir semua murid kelas tiga mulai deg-degan, stress, dan tampak lelah.

Betapa tidak, di bulan-bulan ini, semua murid yang akan mengikuti ujian nasional terpaksa harus menghafal rangkaian kalimat dan rumus dari berbagai macam buku pelajaran mulai dari buku pelajaran kelas 1 sampai kelas 3.

Slamet adalah salah satu murid yang ikut-ikutan panik dan tegang; meski demikian ia tidak pernah belajar karena saking paniknya maka ia sudah lelah duluan sebelum belajar.

Hal ini terjadi bahkan sejak dua bulan menjelang hari H.

Lantas apa akibatnya? Slamet sudah sangat malas mengikuti pelajaran di sekolah, semua penjelasan guru tentang soal-soal pelajaran hanya berlalu begitu saja. Pikirannya sudah penuh.

Nah, pada hari itu, di jam pertama pelajaran matematika di kelasnya, seperti biasanya pak guru hanya memberikan soal-soal latihan ujian untuk dikerjakan siswa.

Pak guru menyuruh semua murid mengerjakan selama satu jam, lalu satu jam berikutnya adalah pembahasan dengan cara menyuruh murid-muridnya satu-persatu menuliskan jawaban di papan tulis.

Tidak seperi murid lainnya yang berusaha mengerjakan, eh si slamet malah baca buku cerita. Itulah satu-satunya cara agar Slamet tetap selamat dan tidak gila gara-gara ujian.

Lalu tibalah waktunya pembahasan. Pak guru memanggil secara acak nama murid untuk mengerjakan jawaban soal di papan tulis. Satu demi satu murid yang dipanggil menuliskan jawaban di papan tulis hingga akhirnya tibalah giliran Slamet yang namanya tiba-tiba disebut pak guru.

Dengan langkah lesu Slamet berjalan ke arah papan tulis, lalu ia mengambil kapur dan mulai menggambar lima lingkaran kecil di papan tulis, lalu ia menebalkan salah satu lingkaran dengan menggunakan kapur setelah itu ia kembali ke kursinya. Pak guru heran, murid-murid lain juga tak jalah heran. Lalu guru bertanya pada slamet;

Pak Guru   : Slamet, kamu sehat kan?

Slamet     : Alhamdulillah sehat pak.

Pak Guru   : Lalu yang kamu kerjakan itu apa ya?

Slamet     : Itu jawaban saya pak.

Pak Guru   : Kamu ngajak becanda dengan bapak atau mau menghina bapak?

Slamet     : Lha kan ini latihan soal ujian pak, ya itu jawaban saya.

Pak Guru   : Maksud kamu?

Slamet     : Besok kan kami semua harus menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan memilih salah satu jawaban lalu menebali jawaban tersebut dilembar jawaban pak. Setahu saya, besok kami tidak perlu menuliskan jawaban seperti ini, cukup dengan menebali satu lingkaran jawaban saja dengan pensin 2B.

Pak Guru   : Lalu bagaimana kami bisa mengerti dengan jawabanmu di papan tulis itu?

Slamet     : Tenang pak, besok yang mengkoreksi jawaban kami itu komputer. Hanya komputer yang tahu apakah kami sudah menjawab dengan betul atau tidak.

Pak Guru   : Ini kan kita sedang latihan, Slamet, ngerti nggak sih kamu! Makanya bapak suruh kamu nulis jawaban seperti yang dilakukan teman-temanmu lainnya!

Slamet:     Ya itu pak, sebaiknya kita juga latihan agar tidak mencontek jawaban teman, jadi kalau saya menjawab dengan cara itu, yang tahu jawabannya hanya saya dan komputer pak. Kalau bapak maksa saya menuliskan jawaban yang transparan, brarti bapak ngajarin kami nyontek dong!

Pak Guru dan Murid Lain: ??????

# # # # #

Analisis Struktur Contoh #1 Cerita Anekdot Di Sekolah "Latihan Soal"

Cerita anekdot yang berbentuk tulisan seperti yang telah dicontohkan tersebut selalu memiliki struktur sebagai mana kalimat memiliki strutur SPOK (subjek, predikat, objek, keterangan).

Struktur tersebut bisa berubah posisinya; mana yang didepan dan mana yang dibelakang. Nah, strutur anekdot ini secara mendasar ada tiga bagian, yakni pembuka (abstraksi)-Isi (orientasi, reorientasi, konflik, aksi-reaksi)-penutup (koda).

Kira-kira bagian-bagian (struktur) anekdot tersebut ada di mana saja ya? Kita lihat dahulu pendahuluan atau abstraksinya.

Abstraksi ini selalu muncul di awal teks dan selalu berfungsi sebagai teks pembuka. Dalam contoh tersebut, abstraksi muncul pada paragraph pertama.

Setelah abstraksi, paragraph ketiga merupakan bagian orientasi yang berfungsi untuk memperkenalkan situasi awal cerita; cerita si Slamet yang depresi ujian.

Orientasi tersebut disusul dengan reorientasi yang terdapat pada paragraph ke-enam sampai paragraph ke-sepuluh.

Bagian reorientasi ini merupakan kelanjutan cerita yang lebih dalam karena mulai memperkenalkan masalah yang dihadapi tokoh utama cerita.

Setelah reorientasi, tentunya adalah konflik alias aksi reaksi yang muncul dan menjadi sorotan dalam teks. Konflik ini muncul di sepanjang dialog dalam teks.

Teks tersebut ditutup dengan koda yang muncul pada dialog slamet yang terakhir; dialog tersebut merupakan puncak atas cara slamet berkelit dari masalah yang membuat guru dan murid lain bengong karena bagaimanapun juga argument bodoh slamet ada benarnya juga dan sesuai logika.

Penjelasan Contoh #1 Cerita Anekdot Di Sekolah "Latihan Soal"

Dari tema yang dihadirkan, kira-kira teks tersebut pengen membahas apa sih?

Pertama adalah soal sistem Ujian Nasional yang selalu bikin stress siswa karena semua siswa dipaksa untuk belajar keras; menghafal keras.

Apakah ujian nasional yang semacam itu masih valid dan relevan untuk kondisi masyarakat yang seperti ini?

Kedua, teks tersebut memuat plesetan cara jitu ngeles dari perintah guru. Ada yang berani berbuat seperti yang dilakukan slamet? Oke teman-teman, kita lanjut ke contoh berikutnya ya!

Contoh #2 Cerita Anekdot Di Sekolah "Membaca"

contoh #2 cerita anekdot di sekolah, membaca

prioritaspendidikan.org

Hari itu diadakan Ujian baca Al-Qur’an di sekolah.

Bagi yang sudah bisa baca Al-Qur’an dengan baik maka hal itu tidak terasa seperti ujian, namun bagi yang belum bisa membaca dengan baik, ujian tersebut terasa menakutkan.

Hal ini dirasakan pula oleh si Johan yang kebetulan ia buta huruf arab; meski sejak kecil ia sudah diajari baca Qur’an, tetap saja ia tidak bisa membedakan satu huruf arab dengan huruf lainnya, terlebih jika hurufnya huruf sambung.

Selama ini Johan belajar sholat dan berdoa dengan cara menghafalkan, jadi untuk ujian kali ini ia mau tak mau harus menghafalkan semua ayat yang akan dijadikan bahan ujian.

Sudah jauh-jauh hari Johan menghafalkan Al-Qur’an dengan cara menyuruh temannya membaca duluan dan ia merekamnya dengan smartphone. Kini Johan sudah hafal 3 surat Al-Qur’an yang dijadikan bahan ujian.

Saat ujian, bu guru memanggil satu per satu murid untuk membaca di depan kelas.

Tibalah giliran Johan; keringat dingin mengalir deras dan Johan gemetar maju ke depan kelas.

Bu guru menyodorkan Al-Qur’an dan menunjukkan satu halaman penuh untuk ia baca. Jelas saja Jono tidak tahu surat apakah itu.

Lantas ia mengucapkan hafalannya, panjang, khusuk, khidmad, dan merdu (kebetulan Jono dikaruniai suara yang indah). Seluruh kelas terdiam dan terpana dengan Johan. Selesai Johan pura-pura membaca, ia mengembalikan kitab suci itu kepada bu guru, lalu bu guru berkomentar.

Bu Guru   : Indah sekali Jono.

Jono     : Terimakasih Bu….

Bu Guru   : Tapi tadi Jono baca yang mana?

Jono     : Al-Baqoroh ayat 1-10 bu…

Bu Guru   : Lho bukannya tadi ibu hanya suruh kamu baca Al-Fatihah? Coba sekarang kamu baca surat yang lain. (Ibu guru membuka halaman kitab lalu menyodorkannya pada Johan). Baca semua yang ada di halaman ini ya.

Jono     : (pusing tujuh keliling, lalu daripada mati gaya maka ia mengucapkan hafalan surat lainnya. Sekali lagi ketika Jono mengucapkan hafalannya, seluruh kelas hening dan larut dalam kekhusyukan. Setelah itu, Jono mengembalikan kitab ke bu guru).

Bu Guru   : Bagus Jono, ternyata kamu tidak bisa membaca Al-Qur’an. Maaf, ibu harus kasih kamu nilai Nol karena kamu tidak mau belajar baca Qur’an.

Jono     : Tapi bu….saya buta huruf arab…

Bu Guru: Maafkan ibu nak, sesuai dengan kurikulum sekolah, ibu hanya memberikan ujian ini. Bila ada siswa yang tidak bisa baca, berarti memang kosong nilainya.

Jono hanya tertunduk lesu dan pasrah lalu kembali ke tempat duduknya.

# # # # #

Analisis Struktur Contoh #2 Cerita Anekdot Di Sekolah "Membaca"

Kalau kita melihat strukturnya, abstraksi cerita muncul pada paragraph pertama. Disusul kemudian dengan orientasi yang muncul pada paragraph ke-tiga.

Reorientasi muncul pada paragraph ke-empat sampai paragraph ke-sembilan.

Aksi-reaksi muncul pada dialog-dialog setelah paragraph ke-sembilan dan konflik hadir saat Jono menjelaskan kepada bu guru bahwa ia buta huruf dan bu guru juga tidak bisa menolong Jono.

Teks anekdot tersebut ditutup dengan koda yang menggambarkan bahwa Jono hanya bisa pasrah.

Penjelasan Contoh #2 Cerita Anekdot Di Sekolah "Membaca"

Teks anekdot tersebut tentu saja mengkritik model pembelajaran yang saklek dan tidak bisa luwes dalam menghadapi berbagai jenis karakter siswa.

Si Jono tentu saja merupakan model yang sial karena kekakuan dari cara belajar mengajar yang masih saja ada di beberapa sekolah.

Apakah Jika Jono tidak bisa membaca huruf arab maka ia tidak mengerti agama? Tentu si Jono merasa usahanya tidak dihargai dengan adanya sitem yang kaku tersebut.

Weits, serius amat. Yuk lanjut pada contoh selanjutnya!

Contoh #3 Cerita Anekdot Di Sekolah "Tas Sekolah"

contoh #3 cerita anekdot di sekolah, tas sekolah

smansa-mempawah.blogspot.com

Hari itu ada razia mendadak di kelas-kelas. Jadi untuk kelas yang sedang diperiksa, semua murid harus keluar ruangan dan meninggalkan seluruh barang bawaannya di dalam kelas lalu para guru yang merazia memeriksa tas murid satu persatu.

Sial bagi Andi yang hari itu kedapatan membawa barang terlarang di sekolah. Maka setelah seluruh murid masuk kekelas, pak guru menahan salah satu tas murid dan menanyakan kepada para murid:

Pak Guru   : Ini tas siapa?

Andi     : Saya yang bawa tas itu pak…

Pak Guru   : Yak, sekarang kamu ikut bapak ke kantor.

Andi     : Baik Pak…

Lantas Andi mengikuti pak guru ke kantor

Pak Guru   : Bapak menemukan kepingan vcd p*rno dan rokok dalam tas kamu Andi. Sejujurnya bapak sangat kecewa mengingat kamu adalah anak Bupati di kota ini. Apakah pantas bagi anak pejabat berperilaku seperti ini.

Andi     : Maaf pak, tapi semua benda itu bukan milik saya.

Pak Guru   : Jangan ngeles kamu, tadi kan kamu yang mengaku kalau tas ini milikmu!

Andi     : Tadi kan saya bilang kalau memang saya yang membawa tas tersebut, namun bukan berarti itu tas milik saya pak.

Pak Guru   : Pandai pula kamu bersilat lidah, mentang-mentang anak pejabat.

Andi     : Kenyataannya memang demikian kok pak, saya tidak bohong.

Pak Guru   : Jika demikian, lalu tas ini punya siapa? Sebaiknya kamu mengaku saja sebelum bapak menelfon ayahmu untuk datang kemari biar ayahmu tahu kelakuan anaknya di sekolah.

Andi     : Tadi saya buru-buru ke sekolah pak, saya berangkat bareng ayah saya yang sekalian berangkat ke kantor. Nah karena buru-buru, maka saya salah ambil tas pak. Tas saya masih tertinggal di mobil ayah, sementara tas ayah yang terbawa oleh saya, jika mau silahkan pak guru telfon ayah saya biar dia ambil sendiri tasnya ini sekalian saya nitip agar tas saya sekalian dibawakan ke sini pak.

Pak Guru   : (mati gaya)

# # # # #

Analisis Struktur Contoh #3 Cerita Anekdot Di Sekolah "Tas Sekolah"

Pada contoh cerita anekdot diatas, abstraksi muncul pada paragraph pertama dan berfungsi sebagai pengantar sekaligus memperkenalkan situasi awal cerita.

Disusul kemudian dengan orientasi yang ditandai dalam paragraph kedua.

Konflik muncul pada dialog-dialog setelah paragraph kedua yang menceritakan kisah si Andi yang kedapatan membawa tas berisi barang-barang terlarang di sekolah.

Puncak dari konflik sekaligus penyelesaian atau koda muncul pada dialog Andi yang terakhir; si Andi menjelaskan alasannya sekaligus menjawab ancaman bapak guru dengan sangat santai sehingga membuat pak Guru mati gaya.

Penjelasan Contoh #3 Cerita Anekdot Di Sekolah "Tas Sekolah"

Banyak anak penjabat diperlakukan berbeda di sekolah.

Jika kamu seperti andi, maka guru mana yang akan menghubungi pak bupati untuk mengambil tas berisi barang-barang tersebut?

Bisa saja Andi berbohong karena dengan berbohong seperti itu bahkan kepala sekolahpun akan enggan menghubungi bupati.

Oke, kita lanjut lagi ke contoh berikutnya ya.

Contoh #4 Cerita Anekdot Di Sekolah "Keadilan"

contoh #4 cerita anekdot di sekolah, keadilan

pinterest.com

Di sebuah sekolah, pak guru PPKN menjelaskan panjang lebar mengenai betapa pentingnya saat ini untuk semua siswa agar tidak mudah terhasut oleh berita hoax yang disebarkan lewat sosial media.

Pak guru   : anak-anak, saat ini situasi politik di negara kita sedang memanas. Kalian sebagai siswa dan siswi tugasnya adalah belajar dengan tekun. Jangan mudah terpancing dengan berita yang tidak jelas sumbernya ya, jangan ikut-ikutan demo dan jangan mau diperalat sebagai masa untuk tujuan yang kita tidak pernah tahu. Bapak dengar soalnya pas kemarin itu ada beberapa siswa dari sekolah kita yang ikut demo, ya bapak sih khawatir kalau kalian kenapa-kenapa. Kalian juga jangan terpengaruh dengan isu SARA yang beredar, ingat sebagai warga negara yang bijaksana, kita semua harus saling menghormati satu sama lain, jangan pilih-pilih. Kalian paham?

Murid-murid   : Paham pak.

Pak Guru   : Nah, sekarang kita lanjutkan pelajaran minggu kemarin. Ada yang ingat kita sampai mana kemarin?

Murid-murid   : (tidak ada yang menjawab, namun selang beberapa saat, si Rafi merespon pertanyaan pak guru)

Rafi     : membahas tentang keadilan dan ketidakadilan pak.

Pak Guru   : Baik, sekarang ada yang tahu contoh dari keadilan dan ketidakadilan?

Murid-murid   : (senyap selama beberapa saat, lalu Budi menyahut)

Budi     : Hukum yang memihak orang-orang tertentu pak.

Pak Guru   : Bagus, ada yang lain?

Susi     : Pilih kasih pak.

Pak Guru   : Yak, tepat. Nah, sekarang beri contoh kasus tentang ketidakadilan yang terjadi di negri kita. Ada yang bisa?

Murid-murid   : (senyap agak lama, lalu Dian merespon pak guru)

Dian     : Mantan Presiden kita periode kemarin yang menuntut keadilan pak.

Pak Guru   : Coba kamu perjelas, kenapa beliau menuntut keadilan?

Dian     : Menurut berita, konon beliau disadap telponnya pak.

Pak Guru   : Itu hoax apa bukan?

Budi     : Kalau kenyataannya sih tidak jelas pak, tetapi sumber yang minta keadilan jelas. Jadi mungkin itu setengah hoax sehingga kita tidak boleh mempercayainya begitu saja seperti yang bapak bilang tadi.

Pak Guru   : Baik, sekarang kita bermain-main dengan mengandai-andaikan; jika kelak kalian jadi penegak hukum, apa yang akan kalian lakukan?

Jarot     : Menegakkan hukum pak.

Budi     : Ikhlas dalam bekerja dan tidak pilih kasih pak

Susi     : Tidak mau disuap pak.

Slamet     : Tidak bikin sosial media pak.

Pak Guru   : Jelaskan slamet, kenapa kok tidak pakai sosial media.

Slamet     : Biar kita nggak dibohongi pakai sosial media pak.

Pak Guru   : Ada-ada saja kamu Slamet! Andi, apa yang akan kamu lakukan jika kamu jad penegak hukum?

Andi     : Bentar pak, belum dapat balasan…

Pak Guru   : Balasan apa Andi?

Andi     : Barusan saya tanya pak presiden dan kapolri, kalau saya jadi penegak hukum, apa yang harus saya lakukan?

Pak Guru   : Ealahh…baru tadi bapak bilang jangan suka ikut-ikutan…ya sudah, nanti kalau sudah dapat balasan kasih tahu bapak ya!

# # # # #

Analisis Struktur Contoh #4 Cerita Anekdot Di Sekolah "Keadilan"

Cek dulu strukturnya yuk!

Abstraksi muncul pada paragraph awal yang menjelaskan secara singkat situsi dan setting cerita.

Orientasi muncul pada penjelasan pak guru yang pajang lebar mengenai berita hoax. Orientasi ini dilanjutkan dengan aksi dan reaksi yang muncul pada tanya jawab yang dilakukan guru dan siswa.

Aksi reaksi ini ditutup dengan koda yang ditandai dengan gurauan Andi bahwa ia menunggu jawaban dari pak presiden dan kapolri.

Penjelasan Contoh #4 Cerita Anekdot Di Sekolah "Keadilan"

Teks ini termasuk teks yang isunya masih hangat. Tentu saja berita yang beredar di televisi tentang keluhan pak Mantan Presiden juga beredar di sekolah-sekolah dan menjadi guyonan yang tak hanya dilakukan antar murid, tetapi juga antar guru dan murid.

Contoh #5 Cerita Anekdot Di Sekolah "Ketakutan"

contoh #5 cerita anekdot di sekolah, ketakutan

ewaninahani.tumblr.com

Suatu hari di sekolah, Jono duduk sendirian termenung di bawah pohon sebelah parkiran motor siswa. Padahal, jam pelajaran sudah dimulai dan Jono masih saja duduk diam di sana.

Pak Guru sudah datang dan mulai mengisi daftar hadir siswa dengan cara memanggil nama mereka satu persatu hingga tibalah giliran nama Jono dipanggil pak guru. Tentu saja tidak ada sahutan. Lantas salah satu teman Jono di kelas itu menyeletuk;

Andre     : Pak, itu si Jono dari tadi pagi masih duduk di bawah pohon pak.

Pak Guru   : Oya? Kalau begitu Andre tolong panggil dia sekarang agar masuk ke kelas.

Andre     : Baik pak…

Andre bergegas keluar kelas dan menuju tempat Jono menyendiri. Tak lama kemudian Andre kembali ke kelas. Pak Guru bertanya;

Pak Guru   : Bagaimana Andre?

Andre     : Jono tidak menyahut pak waktu saya temui. Saya sudah bilang tetapi jangankan menjawab, melihat sayapun tidak pak!

Pak Guru   : Lho kok bisa, jangan-jangan dia kenapa-kenapa?

Budi     : Mungkin patah hati pak, kemaren dia baru diputusin pacarnya.

Wawan     : Ah, kalau begitu bisa jadi dia kesambet penunggu pohon pak. Kan di pohon itu angker…

Serentak seluruh murid di kelas itu bergiik ketakutan…”hiiiiiiiii…..” dan selang sekian detik kemudian Jono masuk kelas.

Tak ayal lagi, sontak seluruh murid berlari ketakutan dan berkumpul di pojok kelas, tak terkecuali juga pak guru yang ikut-ikutan ketakutan setengah mati.

Tentu saja Jono bingung dan hanya bengong di depan kelas dan hal itu justru membuat Jono terlihat menakutkan. Hal ini tentu mengundang reaksi dari kelas lain. Anak-anak kelas lain serta guru-guru ikut keluar mencari tahu sumber kegaduhan.

Seorang guru agama dari kelas lain kemudian masuk ke kelas Jono dan melihat semua murid serta satu guru memojok ketakutan serta melihat Jono yang kebingungan di depan kelas.

Guru Agama   : Ada apa ini?

Jono     : Maaf saya tidak mengerti pak…

Setelah mendengar ucapan Jono, lantas semua yang ketakutan tadi hilang rasa takutnya karena tahu Jono masih normal dan tidak kerasukan seperti yang mereka duga. Sialnya, Jono harus dipanggil ke kantor gara-gara dituduh sebagai biang keributan pagi itu.

Pak Kepala Sekolah   : Apa yang kamu lakukan Jono?!

Jono       : Saya tidak mengerti pak, saya masuk kelas dan semua orang di kelas tiba-tiba berteriak ketakutan sambil berlari ke pojok belakang kelas.

Pak Kepala Sekolah   : Mereka bilang itu gara-gara kamu diam di bawah pohon dan tidak menyahut saat dipanggil?

Jono       : Saya ketiduran di sana pak dari tadi pagi, lha awalnya saya itu sama teman-teman tetapi karena saya ketiduran, teman-teman saya tidak ada yang membangunkan.

Pak Kepala Sekolah   : Katanya Andre memanggil kamu?

Jono       : Katanya sih gitu pak, tapi ya gimana lagi lha saya tidur, nggak nyadar kalau dipanggil, lagian Andre manggilnya dari belakang dan suaranya tidak terdengar sama sekali pak…

Pak Kepala Sekolah   : Haduh ada-ada saja…ya sudah, biarpun kamu tidak salah, tetapi karena seluruh teman sekelasmu merasa terganggu, maka kamu akan diberi hukuman.

Jono       : Tapi pak, pasti ada hoax di kelas, mana ada semua mengira kok saya kesurupan tanpa ada provokasi yang tidak-tidak.

Pak Kepala Sekolah   : Bodo amat, pokoknya sekarang kamu tak hukum nyapu seluruh halaman kelas. Sekarang!

Tiba-tiba si Jono berteriak ketakutan sambil berlari ke pojok ruangan (tentu hanya pura-pura)…

Pak Kepala Sekolah   : Eh…kamu kenapa Jono?

Jono       : Bapak Serem….bapak kesurupan tuh….hiiiiiiiiiii…….saya takut pak….bapak harus dihukum.

Pak Kepala Sekolah   : ????

# # # # #

Analisis Struktur Contoh #5 Cerita Anekdot Di Sekolah "Ketakutan"

Kalau kita lihat bagian-bagian struktur contoh anekdot tersebut, abstraksi ada pada paragraph paling awal yang disusul dengan orientasi di paragraph kedua.

Aksi reaksi muncul pada dialog-dialog setelah paragraph kedua yang susul dengan awal mula konflik pada bagian ketika Jono mulai masuk kelas dan membuat semua orang dalam kelas ketakutan dan berbuntuk Jono dipanggil di kantor kepala sekolah.

Konflik ini ditutup dengan kelitan Jono yang pura-pura takut dengan pak kepala sekolah dan dialog terakhir tersebut menjadi puncak sekaligus koda cerita.

Penjelasan Contoh #5 Cerita Anekdot Di Sekolah "Ketakutan"

Pernah nggak di sekolahmu ada cerita angker? Kayaknya semua sekolah gitu yak.

Tetapi soal yang ingin disoroti melalui anekdot ini adalah bahwa kita sebaiknya hati-hati dengan hoax lho kok hoax? Ya kan sebelum Jono terlihat ngeri ada yang nyletuk kalau Jono kerasukan. Tentu berita semacam ini bisa berbuntut panjang dan dampaknya si Jono yang tidak tahu apa-apa malah kena hukuman.

Nah teman-teman, demikian yang bisa aku bagikan terkait dengan cerita anekdot di sekolah. Sampai jumpa pada artikel tentang anekdot yang lain ya!!!

Sharing is Caring

«

»


KATEGORI

BACAAN TERKAIT

Copyright © 2018 GudangPelajaranContact / Privacy Policy / Copyright / IP Policy / Term of Service
Top